Rabu, 27 Februari 2013

Lebih dari laut

Saya rindu laut.
Saya rindu tersedak air asin yang memabukkan itu.
Saya rindu rambut saya keras dan lengket dibasuh air garam.
Saya rindu mencium amis kebiruan, dari jarak puluhan meter.
Saya rindu ikan ikan itu berseliweran di depan mata, menggoda.
Saya rindu degup jantung yang mendadak cepat dan telinga yang mendadak pengang tiap badan ditolakkan melawan gaya apung.
Saya rindu air yang hangat dan banyak itu, memeluk kulit yang lamat terbakar matahari.
Saya rindu berenang ke kedalaman. Untuk dikembalikan ke hangat permukaan.







Tapi kalau ada kamu, kalah semua rindu itu.

Minggu, 09 Desember 2012

Maju.

Kadang, ada hening yang ingin didengarkan. Ada isak yang disimpan. Ada luka yang dibebat rapat. Ada lelah yang ditertawakan sendiri.

Ledakan ledakan yang diredam dalam hati. Tembok yang dibangun sendiri. Benak yang mengeras tak harap dimasuki. Dan hidup yang kaurasa bersandar semua padamu, pilihan apa yang kaupunya selain menegakkan kepala dan jadi tonggaknya?

Pinjami, pinjami aku pelukmu kali ini saja. Kali ini saja.

Kamis, 11 Oktober 2012

setengah dua belas malam

Kalau nanti aku berhenti menulisimu,
mungkin aku bukannya mau.
Hanya saja,
semua tanya adalah pintu yang membuka,
Jendela kaca yang memperlihatkan sisi lemah kita.
Dan mungkin, aku bosan menulisimu dengan kata-kata yang...
saat kubaca kembali, hampir tak kukenali siapa penulisnya.

Sudah, sudah,
jangan lagi kita bertanya dan merasa..
Kadang memang,
butuh beratus kali tersungkur dan bangkit dan tersungkur dan bangkit,
sampai akhirnya mengerti,
bahwa hati bisa mudah dibuka...
dan ditutup...
dan dikunci kembali.

Cinta yang sakit dan biru itu, hanya akan terjadi sekali, dua kali.
Setelah itu, tinggal kamu dan sisa-sisa hatimu.
Percayalah, setelah itu semua kan lebih mudah.
Melupakan adalah mustahil,
seperti luka yang akan terus ada bekasnya.
Hanya bekas. Tapi sakit itu makin lama kan makin samar.

Nah, kamu, hatiku yang entah tinggal seper-berapa.
Pelan-pelan.
Jatuhlah pelan-pelan kali ini.

Minggu, 12 Agustus 2012

Konklusi, saat ini.

Langkah yang tergesa,
hati yang jatuh tiba-tiba,
dan sebuah ironi tentang semua yang pernah kuingkari.

Aku menandai diriku sendiri,
tentang syarat, tentang persona, tentang semua yang mungkin terjadi, kalau aku harus kembali ke sebuah siklus jatuh hati.
Bukan kesombongan, hanya sebuah janji kepada diri sendiri,
untuk berhenti sakit lagi.

Tapi, seperti semua cerita yang hanya mungkin terjadi di buku berwarna,
aku tersandung.
Dan semua dinding yang kukira kubuat dengan cukup kuatnya, merapuh jatuh.
Seakan semua masa sebelum titik ini, hanyalah sebuah tirai kasat mata.
Tuhan menyibaknya tiba-tiba, mungkin sambil tertawa.
Ah, Kamu yang selalu penuh canda dan rahasia.

Tuhan menyelipkan spasi, diantara kita.
Kamu menyelipkan waktu, diantara kita.
Dan aku menyelipkan sebuah doa, sekuatnya.

Kuputuskan berhenti berhitung.
Dan mempertaruhkan sekali lagi, hati yang kupunya.
Mari bermain di batas mimpi, dimana surga dan neraka hati hanya terpisah sebuah janji.

Tak mengapa, mungkin karena inilah, Tuhan menyelipkan spasi.





Rabu, 08 Agustus 2012

Demi Masa


Bismillahirrahmanirrahiim. 
By the time, surely man is in loss. Except those who believe and do good, and enjoin on each other truth, and enjoin on each other patience (al-Ashr, The Declining day)

It hit me right where it hurts.


Sampai di titik ini, dan sampai sekarang aku tahu pasti, belum seujung kukupun aku sanggup mengamalkan ilmu ini. Dan tiba- tiba saja aku disergap ketakutan dan kesedihan yang maha besar. Kemana saja masa mudaku kusia-siakan? 

Aku manyadari satu hal, kalau perubahan itu pasti. dalam pola pikir, dalam kedewasaan, dalam kesabaran, tapi untuk sampai di titik dimana kita bukan termasuk orang yang merugi? membayangkannya saja aku tidak berani.
Ah, hanya bisa mengingatkan diriku sendiri. Seperti apapun kita merasa sampai pada titik yang paling baik, jangan berhenti. 
Menjalani hidup, jatuh, mungkin tersesat, mungkin hilang, tapi jangan pernah mencoba untuk tidak kembali. 
Aku cuma tahu kita semua punya satu tempat untuk pulang, dan kalau dalam perjalanan menuju pulang kita lupa jalan kembali, mau pulang kemana lagi? 

Seperti apapun masalah, akan ringan dijalani kalau kita kembalikan ke satu tujuan pasti. Dan prinsip ini, sampai sekarang aku masih mencoba menjalaninya. Masih perlu banyak berbenah diri, dan tentang iman yang turun naik ini, aku berdoa semoa Dia masih selalu membolehkanku datang. 




Pertengahan Ramadan. Semoga belum terlambat untuk membuka jalan pulang. 

Senin, 30 Juli 2012

Tersesat

Titip salam buat mimpi dan janji.
akan kutulis obituari, tentang mereka yang hinggap sekedar untuk mati.
di kaki- kaki waktu. 
Melelah pada pendakian yang tak kunjung usang. 


Hidupku, hidupmu, adalah rangkaian yang ditulis dengan pena kasat mata.
Sekuat apapun kita mencoba, alur itu adalah benang kuat yang mengikat kita, dan kita ikut arus dan kita melawan arus, dan kita kadang (merasa) berjuang.

Aku. tidak tahu.
Sampai mana aku harus mencoba, sampai mana ku harus berhenti.
Tapi, yang kutahu, bahagia itu pasti.

Kalau lelah nanti kaki-kakiku, aku cuma ingin mengingat, hati ini bisa menghangat, karena kita adalah tuhan kecil di dalam diri. 
Tersesat? mungkin saja. Tapi jangan hilang ingat, itu saja.

Senin, 16 Juli 2012

berhenti itu percuma.

You learn about love from unexpected person, at the most unexpected time. If there's one thing that I know is true about myself, I have no doubt that I'm a complete idiot when it comes to falling for someone. It's a complete falling from the top, thus, when I hit the rock bottom.. I break myself into pieces. Sakit? Iya. Dari situ saya belajar defensif. Belajar berhenti jatuh cinta. Belajar melupakan. Belajar menggunakan otak. Tapi, saya melupakan satu fakta penting. Jatuh cinta, pada orang-orang lain yang mungkin tidak kamu sadari. Awalnya, berbagi. Call me an asshole, because I am. I start to build friendship by the time I lose my only trusted friend. My boyfriend. I learned to make friend very late, didn't I? Dan demi tuhan, tidak pernah sekalipun saya tahu, kalau menyayangi seseorang bisa demikian mudah. I have several names, which, are the most special person in my life. I have a soft spot for them. I would cry when they get hurt (which I did). And I would be happy, if they're happy. Aside from my family, being with them is the treasure I would always pursue. Saya jatuh cinta kepada mereka tanpa saya sadari. Dan tiba-tiba, mereka sudah jadi orang-orang penting dalam hidup saya. I let them in, and no, I would never let them go. Ever. They're not always around, but I know better, that distance means nothing. When you split secrets, your deepest pain and past, you split a piece of you and give it to them. I learn that giving love is never hurt. I never change. I'm still the same person that would love wholeheartedly. It's in my blood. So I let myself fall for my best friends. And the weirdest thing is.. I stop asking back. I completely forgot about equality in relationship. Here comes the truth.. You have to love, and love, and love to find that simple happiness. Semakin saya menyayangi seseorang dan melupakan tentang kehilangan dan kepemilikan, semakin saya bahagia. I'm happy just by seeing Kriww in her most special day. I'm happy just by leaning my head in Mbak Ska's shoulder. I'm happy having nowhere conversation with Edo. I'm happy listening to Khaafi's stories. I'm happy teasing Mbem about his stomach. I'm happy seeing Nyo2 bubbling about anything. I'm happy just by reading Roid's tweets. And I'm ecstatic hearing Kodin's news.

 And many, many other names that never fail to make me feel warm. I'm happy when they need me, share some stories, knock into my window, or simply say hi. If this isn't love, then I don't know what to call this. 


Hey, stranger. Kamu sekeping gravitasi yang muncul untuk selalu mengingatkan aku lagi, Sekuat apapun aku mencoba, akan ada selalu jatuh yang sama. Kalaupun lewat saatnya, terima kasih. Kamu membuatku tahu, selalu ada ruang untuk dibentang, sayang untuk diberikan. Hatiku hanya pinjaman. Cinta yang ruah ini kita semua tahu asalnya dari mana. Kalau titik ini hanya lintasan, kamu Aldebaran yang menuntunku pulang. Tentang sebuah kenyataan, kalau aku hanya tahu mencintai sepenuh hati. Tapi bukan untuk menggantung dan menyandarkan diri. Sebuah hati yang sama, dengan kesadaran berbeda. Akan selalu ada titik-titik pelangi seperti ini. Aku hanya perlu memberi sepenuh hati, itu saja.

Jumat, 13 April 2012

rasuk

dan aku berharap bisa mengenalmu, mencintaimu lebih tulus.

seperti tubuh tubuh lelah yang merebah di peraduan tanpa paksaan.

bukankah jatuh cinta, bahkan dari namanya adalah sebuah gravitasi, tarikan tanpa dapat dielakkan?

dan siapalah aku, sekedar manusia yang mungkin tak ad artinya, tanpa sebuah nama dan identitas di padang mahsyar maha besar.

Ini hanyalah sebuah misteri ilahi, dan otak serta hatiku hanya keping yang menjalani takdirnya sebagai bagian dari satu kesatuan maha raksasa. menjalankan tugasnya sebagai penggerak, angin yang mungkin jadi beliung kelak.

detik ini, aku mungkin terlalu bodoh memahami. Tapi satu hal kutahu pasti, jika Tuhan telah membuatmu jatuh hati, maka jatuhlah sampai tiba saatnya kamu benar benar harus pergi.

menyerah hanyalah sebuah reaksi purba tentang ketakutan akan hancur dan sakit lagi. Dan manusia, mahluk Tuhan yang paling sempurna, sungguh diciptakan dengan kapabilitas sempurna untuk hidup dan tetap berdiri meskipun... hati yang menjadi inti harus lebur tersakiti.

Tiap hati memiliki nyawa, dan ia bukan sekedar nyawa biasa. Hatimulah burung burung api, dari patah ia hidup dan mencinta lagi.

Jumat, 16 Maret 2012

in search of...

When we lose our purpose, it's like we're broken (Hugo)


It gives me shiver. True. I actually know how it feels to lose a purpose, i've been there several times. There's this force that keeps us awake everyday, every single second, that reminds us what we live for. And sometimes, when we lose it, we no longer have reason to live.
Sebenernya, kita semua punya tujuan, aside dari kehidupan kita sebagai pemeluk suatu agama yang percaya bahwa tujuan hidup kita adalah menyembah Yang Maha tunggal, gue selalu percaya kalau ada beberapa hal yang jadi kekuatan dan alasan kita buat survive, dan meneruskan this so-called-life.

It could be someone.
It could be something.
It could be anything.

I, honestly, still trying to figure what's mine. But everyday, there's always this little path i try to find. Misalnya, pagi2 udah mikir, hari ini mau ini, ini dan ini. Atau malemnya, mikir, hari ini mesti begini, begini, begitu.
It's okay that we dont have the big purpose, yet. You can always start by something little like..
I want to bake somecake later.
I want to eat this delicious pasta tonight.
I want to jog tomorrow morning.

Then, move on to something bigger..
I want to have my own coffeeshop.
I want to buy that car.
I want to go to Paris for vacation.

Material thingy-much? Well, there's always a room for things like..
I want to bitch less.
I want to stop whining.
I want to pay more attention to people i love.

Just some small purposes that keep you alive while you're searching for the biggest thing you really love, and you decide that it's the thing you are willing to die for. Create your own purposes, and in the journey, you'll find what you really are..






*written as a note to self*